Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Januari 2013

BAGAIMANA MENYATUKAN UMMAT ISLAM


Bismillah,
Bersatunya kaum muslimin didalam satu kepemimpinan adalah perkara mulia yang selalu dicita-citakan dan diidam-idamkan oleh setiap muslim yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya. Pasalnya persatuan kaum muslimin adalah Rahmat Alloh kepada mereka sedangkan perpecahan adalah adzab Alloh kepada mereka, sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh saw :

 اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَ اْلفُرْقَةُ عَذَابٌ
"Jama’ah itu rahmat dan firqoh itu adzab.”

(HR.Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad:IV/278, Silsilah Shohihah 2/272)

Alloh swt melarang perpecahan dan memerintahkan Ummat Islam agar bersatu didalam Din (Agama)-Nya QS. Ali Imran (3) :103. Perintah bersatu (berjamaah) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah dipraktekan dalam wujud kepemimpinan yang satu yakni kepemimpinan Nubuwwah (Ummat Islam dipimpin langsung oleh Nabi saw) dan dilanjutkan / digantikan oleh kepemimpinan Khilafah (Ummat Islam dipimpin oleh seorang Khalifah).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

“Dahulu Bani Israil senantiasa dipimpin oleh para Nabi, setiap wafat seorang Nabi diganti oleh Nabi lainnya dan sesudahku ini tidak ada lagi seorang Nabi dan akan terangkat beberapa khalifah bahkan akan bertambah banyak. Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau bersabda: ”Tepatilah bai’atmu pada yang pertama, maka untuk yang pertama dan berilah kepada mereka haknya, maka sesungguhnya Allah akan menanyakan apa yang dipimpinya (rakyatnya).” (HR.Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Al Bukhari dalam Kitab Bad’ul Khalqi: IV/206  no. 3196; Muslim, Shahîh Muslim, no. 3429; Ahmad, Musnad Ahmad, no. 7619.)

Sejak runtuhnya kekhilafahan Islam di Turki (khilafah Ustmaniah) 86 tahun yang silam (1924 M) ummat Islam berada dalam keadaan dimana mereka tidak berada dalam satu kepemimpinan. Masing-masing mereka lantas hidup dalam kehinaan, sementara para musuh menggerogoti dari berbagai penjuru Sampai akhirnya orang-orang Yahudi berhasil menanamkan pola fikir bernegara, nasionalisme dan kebangsaan untuk mengkotak-kotakkan ummat Islam agar mudah dikuasai.
Pandangan Khilafah Islamiya sebagai sebuah Negara (Ad-daulah Al Islamiyah) pun timbul akibat sekian lama ummat Islam  terbiasa hidup tanpa  seorang Kholifah / Amirul Mukminin.

Jika kita telusuri secara literal tidak ada satupun ayat Al Qur’an atau hadist yang menyebut kata  Ad-daulah.(akar kata; dala – yadulu – daulah = bergilir, beredar, dan berputar). Kata ini dapat diartikan kelompok sosial yang menetap pada suatu wilayah tertentu dan terorganisir oleh suatu pemerintahan yang mengatur kepentingan dan kemashlahatan.

Menurut sejarah, istilah Daulah pertama kali digunakan dalam politik Islam ketika kekhalifahan dinasti ‘Abbasiyyah meraih tampuk kekuasaan pada pertengahan abad ke delapan. Pada masa tersebut, kata daulat diartikan dengan kemenangan, giliran untuk meneruskan kekuasaan dan dinasti. Atau jika sebelum masa ‘Abbasiyyah pernah ada daulah Umayyah atau “giliran keluarga Umayyah” maka selanjutnya adalah “giliran keluarga Bani Abbas” (daulah Abbasiyah).

Adanya sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa Ummat Islam sulit menyepakati Bagaimana memulai pelaksanaan Khilafah Islamiyah yang dikhabarkan akan muncul diakhir jaman sebagai Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah. (lihat latar belakang dimaklumatkanya Khilafatul Muslimin)

Sahabat generasi awal islam (assabiqunal awwalun) telah bersepakat dan memberi contoh bagaimana  memulai sebuah kekhalifahan Islam yakni dengan mengankat terlebih dahulu seorang khalifah (pemimpin) untuk mereka taati dan menunda semua urusan yang lain termasuk perkara yang sangat urgent seperti menguburkan Jenazah/Mayyit. Inilah yang Rosululloh saw perintahkan yakni meneladani sunnah nabi (minhaj nubuwwah) dan Khilafah Rasydah Al Mahdiyyin.
أُوصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku wasiyatkan kepada kalian hendaklah selalu bertakwa kepada Allah, mendengar dan mentaati (pemimpin) sekalipun ia seorang budak habsyi, karena sungguh siapapun dari kalian yang berumur panjang sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu kalian wajib berpegang kepada jalan/jejak langkahku dan jalan/jejak langkah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dan Tirmidzi )

Khilafah adalah Al Jamaah selainya merupakan Firqoh

Dari Khudzaifah bin Yaman Radliallahu ‘anhu berkata:
 كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ .

“Adalah orang-orang (para sahabat) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan dan adalah saya bertanya kepada Rasulullah tentang kejahatan, khawatir kejahatan itu menimpa diriku, maka saya bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada di dalam Jahiliyah dan kejahatan, maka Allah mendatangkan kepada kami dengan kebaikan ini (Islam). Apakah sesudah kebaikan ini timbul kejahatan? Rasulullah menjawab: “Benar!” Saya bertanya: Apakah sesudah kejahatan itu datang kebaikan? Rasulullah menjawab: “Benar, tetapi di dalamnya ada kekeruhan (dakhon).” Saya bertanya: “Apakah kekeruhannya itu?” Rasulullah menjawab: “Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku. (dalam riwayat Muslim) “Kaum yang berperilaku bukan dari Sunnahku dan orang-orang yang mengambil petunjuk bukan dengan petunjukku, engkau ketahui dari mereka itu dan engkau ingkari.” Aku bertanya: “Apakah sesudah kebaikan itu akan ada lagi keburukan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya ke dalam Jahannam itu.” Aku bertanya: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.” Rasululah menjawab: “Mereka itu dari kulit-kulit kita dan berbicara menurut lidah-lidah (bahasa) kita.” Aku bertanya: “Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian?” Rasulullah bersabda: “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka!” Aku bertanya: “Jika tidak ada bagi mereka Jama'ah dan Imaam?” Rasulullah bersabda: “Hendaklah engkau keluar menjauhi firqoh-firqoh itu semuanya, walaupun engkau sam pai menggigit akar kayu hingga kematian menjumpaimu, engkau tetap demikian.” (HR.Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan: IX/65, Muslim, Shahih Muslim: II/134-135 dan Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah:II/475. Lafadz Al-Bukhari).

Jika kita periksa hadist Imam Bukhari diatas dimasa terjadinya Dakkhan / ketidakjelasan / samar-samar  Rosululloh saw telah memerintahkan sahabat untuk senantiasa bersatu dalam Jamaah Muslimin dan Imamnya. Yang substansinya adalah Khilafah Islamiyah dan Khalifahnya / Amirul Mukmininnya.  Hal ini telah  dipraktekan oleh  sahabat rodiallohuajmain  sepeninggal  Nabi saw  yakni  dengan bersatu  didalam KHILAFAH RASYDAH  dengan khalifahnya yg  kita kenal yaitu Abu bakar Ash-Shidiq, dilanjutkan Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali Bin abi Thalib (khilafah ala minhaj nubuwwah)

Sudut pandang ini dikuatkan  oleh Imam Thabrani dalam Syarah Hadist Bukhari diatas, Beliau berkata, “ Fa in ro aita khaliifatan fal zamhu, wa in dhuridho  dzohruha fa’illam yakum kholifatan fal hasbu”  yang artinya; apabila kamu melihat kekhalifahan sudah dimaklumatkan maka segera bergabung, walau kamu harus dipukul . dan apabila kamu tidak melihatnya maka tinggalkan semua golongan-golongan yang ada (Lihat Syarah Bukhori/Fathul Baari Juz ke 13 hal.36)

Dalam syarah yang sama Imam Baydhowi berkata " al ma’na idzaa lam yakun fil ardhi Kholifah fa’alaika bil’uzlah washobri ‘ala tahammul syidati zaman”  adapun makna  jika dimuka bumi ini tidak ada kholifah maka wajib bagimu menyingkir dan bersabar untuk menanggung kerasnya/kondisi jaman itu (Fathul Baari 13:36)
Dengan demikian jelaslah bahwa sesungguhnya Khilafah Islamiyah merupakan sebuah al Jamaah dan selainya adalah Firqoh.    Al Jamaah ini diberi nama Khilafatul Muslimin sebab  kata Khilafah telah disandarkan pada kata Al Muslimin (dalam hadist diatas) sehingga dibaca "Khilafatul Muslimin" sebagai pelopor  Khilafah ala minhajin nubuwwah  di akhir zaman.

Dimulai dari adanya seseorang kholifah yang kemudian dimaklumatkan Khilafah Islamiyah kepada seluruh manusia sebagai sebuah rahmat Alloh sebagaimana cara  Nabi saw memaklumatkan kepemimpinanya semenjak  belum diberi  kekuasaan apa pun oleh Alloh swt (periksa QS. Al Anbiya /21:107) hingga tegaknya Din/Agama yang telah diridhoi-Nya  yakni Din Islam (periksa QS. An-Nur/24:55).

Allohu’alam bishowab.

Walhamdulillah.

Senin, 28 November 2011

KONSEPSI AGAMA


Pengertian Agama

Dalam bahasa Indonesia kata Agama berasal dari bahasa sansakerta diambil dari kata A yang artinya tidak dan GAMA yang artinya kacau jika digabungkan agama mengandung arti kata sesuatu yang tidak kacau.
Dalam Bahasa Inggris agama diucapkan dengan RELIGION yang berasal dari bahasa latin diambil dari kata RE dan ELIGARE / LIGARE yang mengandung arti memilih kembali atau menghubungkan kembali sesuatu yang telah putus

Dalam Bahasa Arab agama diucapkan dengan AD-DIN yang berasal dari akar kata DANA-YADINU-DINAN yang mengandung arti Tunduk, Patuh, Taat, Peraturan, Undang-undang.

Dari beberapa pengertian bahasa diatas belum dapat menggambarkan arti sebenarnya dari apa yang kita maksudkan dengan  pengertian agama secara definitive, karena agama selain mengandung hubungan dengan Tuhan juga hubungan dengan masyarakat dimana didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang menjadi pedoman bagaimana seharusnya hubungan-hubungan tersebut dilakukan dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup.

Macam-macam agama di Dunia

Pada dasarnya agama itu ada dua jenis yaitu :
1. Agama Wahyu (samawi/langit) yakni agama yang diturunkan oleh Tuhan 
    kepada utusan-Nya /rosul contoh : Agama Islam, Agama Nasrani, Agama 
    Yahudi
2. Agama Budaya (ardhi/bumi) yakni agama yang bersumber dari hasil pikiran 
    atau perasaan manusia secara kumulatif yang kita kenal sebagai ISME 
    contoh : Liberalisme, Kapitalisme, Sosialisme, dsb.

Mungkin akan timbul pertanyaan mengapa ISME sama dengan AGAMA. Secara Devinitive baik agama maupun isme memiliki Kesamaan yakni terdapatnya aturan-aturan yang mengikat kehidupan manusia baik sebagai individu maupun masyarakat yang dijadikan pedoman hidup dan didalamnya sama-sama ada ketaatan dan adanya sanksi hukum maupun konsekwensi (kebahagiaan/kesengsaraan) yang akan didapatkan oleh pengikutnya.

Konsep Agama Islam (Dinul Islam)
Sesungguhnya Allah swt telah menjelaskan melalui Al'Quran bahwa sistem kehidupan yang diridhoi-Nya adalah sistem yang dibangun atas ketaatan dan keikhlasan untuk menghambakan diri kepada Allah semata.
Firman Allah Ta'ala :
بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ
تَنزيلُ الكِتٰبِ مِنَ اللَّهِ العَزيزِ الحَكيمِ ﴿١﴾ إِنّا أَنزَلنا إِلَيكَ الكِتٰبَ بِالحَقِّ فَاعبُدِ اللَّهَ مُخلِصًا لَهُ الدّينَ ﴿٢﴾ أَلا لِلَّهِ الدّينُ الخالِصُ ۚ وَالَّذينَ اتَّخَذوا مِن دونِهِ أَولِياءَ ما نَعبُدُهُم إِلّا لِيُقَرِّبونا إِلَى اللَّهِ زُلفىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحكُمُ بَينَهُم فى ما هُم فيهِ يَختَلِفونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لا يَهدى مَن هُوَ كٰذِبٌ كَفّارٌ ﴿٣﴾ لَو أَرادَ اللَّهُ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصطَفىٰ مِمّا يَخلُقُ ما يَشاءُ ۚ سُبحٰنَهُ ۖ هُوَ اللَّهُ الوٰحِدُ القَهّارُ ﴿٤﴾ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالأَرضَ بِالحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ الَّيلَ عَلَى النَّهارِ وَيُكَوِّرُ النَّهارَ عَلَى الَّيلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمسَ وَالقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجرى لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ أَلا هُوَ العَزيزُ الغَفّٰرُ ﴿٥﴾ خَلَقَكُم مِن نَفسٍ وٰحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنها زَوجَها وَأَنزَلَ لَكُم مِنَ الأَنعٰمِ ثَمٰنِيَةَ أَزوٰجٍ ۚ يَخلُقُكُم فى بُطونِ أُمَّهٰتِكُم خَلقًا مِن بَعدِ خَلقٍ فى ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍ ۚ ذٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُم لَهُ المُلكُ ۖ لا إِلٰهَ إِلّا هُوَ ۖ فَأَنّىٰ تُصرَفونَ ﴿٦﴾ إِن تَكفُروا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُم ۖ وَلا يَرضىٰ لِعِبادِهِ الكُفرَ ۖ وَإِن تَشكُروا يَرضَهُ لَكُم ۗ وَلا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزرَ أُخرىٰ ۗ ثُمَّ إِلىٰ رَبِّكُم مَرجِعُكُم فَيُنَبِّئُكُم بِما كُنتُم تَعمَلونَ ۚ إِنَّهُ عَليمٌ بِذاتِ الصُّدورِ ﴿٧﴾ وَإِذا مَسَّ الإِنسٰنَ ضُرٌّ دَعا رَبَّهُ مُنيبًا إِلَيهِ ثُمَّ إِذا خَوَّلَهُ نِعمَةً مِنهُ نَسِىَ ما كانَ يَدعوا إِلَيهِ مِن قَبلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندادًا لِيُضِلَّ عَن سَبيلِهِ ۚ قُل تَمَتَّع بِكُفرِكَ قَليلًا ۖ إِنَّكَ مِن أَصحٰبِ النّارِ ﴿٨﴾ أَمَّن هُوَ قٰنِتٌ ءاناءَ الَّيلِ ساجِدًا وَقائِمًا يَحذَرُ الءاخِرَةَ وَيَرجوا رَحمَةَ رَبِّهِ ۗ قُل هَل يَستَوِى الَّذينَ يَعلَمونَ وَالَّذينَ لا يَعلَمونَ ۗ إِنَّما يَتَذَكَّرُ أُولُوا الأَلبٰبِ ﴿٩﴾

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(1) Kitab (Al Qur'an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (2) Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (3) "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ""Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya"". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." (4) Kalau sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha Suci Allah. Dia-lah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (5) "Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (6) "Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (7) "Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu." (8) "Dan apabila manusia itu ditimpa kemudaratan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudaratan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ""Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka""." (9) "(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ""Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."QS. Az-zumar (39) : 1 - 9
 
Allah swt telah menyusun sebuah sistem (dinullah / dinul Islam) yang sempurna dan mencakup berbagai aspek kehidupan maka manusia diberi tugas berjalan diatas sistem tersebut dan memahami balasan Allah untuk manusia pada hari perhitungan nanti.

Tetapi sangat dimungkinkan adanya manusia yang tidak mau tunduk patuh pada aturan Allah swt tersebut, sebaliknya manusia dengan akalnya membuat sendiri aturan-aturan yang sesuai dengan kehendaknya sendiri akibatnya terdapat banyak agama / isme / din selain dinul islam.

Firman Allah Ta'ala
أَفَغَيرَ دينِ اللَّهِ يَبغونَ وَلَهُ أَسلَمَ مَن فِى السَّمٰوٰتِ وَالأَرضِ طَوعًا وَكَرهًا وَإِلَيهِ يُرجَعونَ

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imron / 3 ; 83
Maka kita dihadapkan pada dua pilihan, yakni berada dalam Dinulloh (Agama Allah) atau Dinunas (agama budaya/isme). Amat disayangkan kalau ternyata kita memilih untuk menggunakan Isme karena menurut akal kita lebih terasa cocok dengan situasi dan kondisi saat ini daripada Dinul Islam. Padahal siapa saja yang mengikuti din selain dinullah yaitu dinul Islam walaupun yang diikutinya tersebut dahulunya bersumber darii samawi, tidak akan diterima oleh Allah swt sebagaimana dijelaskan melaului firman Allah berikut :
إِنَّ الدّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسلٰمُ ۗ وَمَا اختَلَفَ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ إِلّا مِن بَعدِ ما جاءَهُمُ العِلمُ بَغيًا بَينَهُم ۗ وَمَن يَكفُر بِـٔايٰتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَريعُ الحِسابِ

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.QS. Ali Imron (3) : 19

Wallhu'alam
Semoga menginspirasi antum untuk beristiqamah dalam Dinul Islam