Sabtu, 31 Desember 2011

HANYA SEKEDAR KATA-KATA

Muslim  : bagaimana natalmu ?
David    : baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku ?
Muslim : tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, 

               termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya 
               melarangnya..
David    : tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata2 ? 

               Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?
Muslim : mungkin mereka belum mengetahuinya... David,...

               kau bisa mengucapkan dua kalimat sya...hadat ?
David   : oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya...

               Itu akan mengganggu kepercayaan saya...
Muslim : kenapa ? Bukankah hanya kata2 ? 

               Ayo, ucapkanlah ;)...
David    : sekarang, saya mengerti.. ;)

 

Rabu, 14 Desember 2011

BERSATU DALAM RANGKA PERWUJUDAN SYAHADATAIN

Meskipun realita ummat Islam saat ini berada dalam golongan-golongan  dan adanya nash atau dalil yang menyatakan bahwa Ummat Islam akan terpecah dalam beberapa golongan, namun tidak menggugurkan kewajiban bagi kaum muslimin untuk bersatu padu kembali berada dibawah satu kepemimpinan "ulil amri minkum" , sebagai perwujudan atau konsekwensi Tauhid yaitu Syahadatain, Sebab nash atau dalil yang memerintahkan kaum muslimin bersatu juga jelas.. berarti kita dituntut untuk bersikap dewasa, bijak dalam menyikapi perbedaan sikap yang timbul saat ini karena Allah SWT telah memberikan  sebuah pilihan kepada manusia.

Ada sebuah perumpamaan menarik yang Allah SWT sampaikan kepada kita yaitu firman Allah Ta'ala :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فيهِ شُرَكاءُ مُتَشٰكِسونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَل يَستَوِيانِ مَثَلًا ۚ الحَمدُ لِلَّهِ ۚ بَل أَكثَرُهُم لا يَعلَمونَ
Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."QS. Az-Zumar (39) : 29



Senin, 12 Desember 2011

PENYIMPANGAN DALAM SYAHADATAIN (Bagian Ketiga)

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ 
3. PERPECAHAN UMMAT ISLAM
   Masalah perpecahan ummat selalu menjadi topik yang hangat jika dibahas. sebagian besar aktivis Islam  tidak mau mengakui bahwa saat ini ummat islam telah terbagi dalam beberapa kelompok (firqoh) dalam mengemban amanah menegakkan Ad-din,  adapun yang mengakuinya lantas mencari-cari pembenaran agar kelompoknya diakui sebagai kelompok yang paling benar yang akan mendapatkan pertolongan (Firqotun Naajiyah/Toifah Mansurah).  Padahal perpecahan dengan beragam bentuknya adalah tercela, setiap muslim harus mengetahui bentuk-bentuk perpecahan dan para pelakunya sehingga ia dapat menghindar dari jurang kemusyrikan.  

Secara bahasa istilah Firqah mengandung arti  berbeda, berselisih, berpecah. Lawan katanya adalah Jamaah Yang artinya berkumpul, bersatu. Adapun dalam istilah Islam berfirqah itu dimaksudkan terpecahnya umat Islam menjadi kelompok-kelompok dalam mengemban amanat Dien mereka, Hal ini berakibat pada sulit ditegakannya hukum Allah sebagai satu satunya penguasa  dan pemilik hukum 

Berikut adalah dalam sembilan point yang harus diketahui oleh kaum muslimin agar terhindar dari firqoh.

Pertama.
Hadits mutawatir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai perpecahan yang melanda umat. Di antaranya adalah hadits iftiraq yang berbunyi.

"Artinya : Umat Yahudi telah terpecah-belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan umat Nasrani telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sementara umat ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan"

Hadits Nabi ini sangat masyhur, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat dan dicantumkan oleh para imam dan huffazh dalam kitab-kitab sunan, seperti Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya'la Al-Maushili, Ibnu Abi Ashim, Ibnu Baththah, Al-Ajurri, Ad-Darimi, Al-Lalikai dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan shahih oleh beberapa ahli ilmu di antaranya ; At-Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi,As-Suyuthi, Asy-Syathibi dan lainnya. Di samping banyak terdapat jalur sanad bagi hadits ini, secara keseluruhan dapat mencapai derajat hadits shahih.

Kedua.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa umat ini bakal mengikuti tradisi umat-umat terdahulu. Hadits tersebut berbunyi.

"Artinya : Kalian pasti akan mengikuti tradisi umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekalipun mereka masuk lubang biawak, kalian pasti mengikutinya. "Kami bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : 'Siapa lagi kalau bukan mereka!" [Hadits Riwayat AL-Bukhari, silakan baca Fathul Bari, 8/300 dan Muslim hadits no. 2669]

Hadits ini shahih muttafaqun alaihi, tercantum dalam kitab-kitab shahih dan sunan

Dalam beberapa matan dan lafalnya secara eksplisit hadist ini menjelaskan makna "menyerupai dan mengikuti" dimaksud. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Ibarat bulu-bulu anak panah yang sama persis"

Dan beberapa lafal lainnya yang sama menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan bahaya perpecahan yang bakal melanda umat ini. Bahwa hal itu pasti menimpa umat ini. Dan perpecahan yang bakal terjadi itu bukanlah cela dan cacat atas Islam, atas Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan atas Ahlul Haq, namun merupakan kecaman terhadap orang-orang yang memisahkan diri dari jama'ah. Orang-orang yang memisahkan diri dari jama'ah tentunya bukan termasuk Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah orang-orang yang memegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah, yang tetap berada di atas nilai-nilai ke-Islaman. Merekalah para penegak kebenaran yang dibangkitkan Allah kepada manusia hingga hari Kiamat.

Jadi, perpecahan pasti terjadi berdasarkan berita yang sangat akurat, meskipun relitas dan logika belum mampu membuktikan kebenarannya!. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikannya melalui hadits-hadits beliau yang shahih dengan beragam lafal. Peringatan terhadap bahayanya juga telah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan. Peringatan yang disampaikan berkali-kali itu merupakan sinyalemen bahwa perpecahan pasti terjadi tanpa bisa dihindari!.

Ketiga.
Adanya nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang mencakup larangan mengikuti jalan-jalan hawa nafsu dan perpecahan!

Di antaranya adalah.

[1]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai" [Ali Imran : 103]

[2]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan" [Al-Anfal : 46]

[3]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

"Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka" {Ali Imran : 105]

[4]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

"Artinya : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangtangnya" [Asy-Syura : 13]

[5]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya" [Al-An'am : 153]

Secara gamblang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan ayat di atas, beliau menarik sebuah garis lurus yang panjang kemudian menarik garis-garis ke kanan dan ke kiri menyimpang dari garis lurus tadi. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa garis lurus tersebut adalah jalan Allah, sementara garis-garis ke kanan dan ke kiri adalah jalan buntu yang menyimpang dari jalan yang utama yang lurus tadi[1]. Beliau juga menjelaskan bahwa pada jalan-jalan kesesatan tadi terdapat juru-juru dakwah yang menyeru kepada jalan setan. Barangsiapa mengikuti mereka, niscaya akan dilemparkan ke dalam jurang kehancuran [2]

Keempat .
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang kita berbantah-bantahan dalam firmanNya.

"Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan" [Al-Anfal : 46]

Sementara berbantah-bantahan itulah yang terjadi di antara kelompok-kelompok itu hingga berpecah-belah menjadi bergolong-golongan.

Kelima.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam siapa saja yang menyimpang dari jalan orang-orang yang beriman (sahabat) dalam firmanNya.

"Artinya : Dang barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali" [An-Nisaa : 115]

Ternyata apa yang disebutkan dalam ayat diatas benar-benar dilakukan oleh segerombolan orang yang menentang Allah dan RasulNya serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman. Mereka itulah kaum munafikin, kaum penentang dan kaum sempalan. Hanya kepada Allah saja kita memohon keselamatan

Jalan orang-orang yang beriman itulah jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Keenam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menetapkan beberapa sanksi atas orang yang memisahkan diri dari jama'ah, juga menjadi salah satu dalil bahwa hal itu pasti terjadi! Dengan keras beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam siapa saja yang memisahkan diri dari jama'ah, berikut sabda beliau.

"Artinya : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusa Allah kecuali dengan tiga alasan : (1) berzina setelah menikah. (2) Membunuh jiwa tanpa hak (qishash). (3) Murtad dari Islam yang memisahkan diri dari jama'ah" [Muttafaqun 'alaih, Al-Bukhari IV/317 dan Muslim V/106]

Ketujuh.
Secara implisit Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan sinyalemen terjadinya perpecahan ketika beliau menyinggung tentang kelompok Khawarij. Beliau menyebutkan bahwa kelompok Khawarij ini akan memisahkan diri dari umat, akibatnya mereka melesat keluar dari agama. Istilah 'keluar dari agama' bukan berarti kafir keluar dari Islam, akan tetapi maknanya adalah keluar dari asas Islam, keluar dari hukum-hukum dan batas-batasnya. Istilah 'keluar dari agama' kadang kala berarti kekafiran kadang kala tidak sampai kepada batas kafir. Kadang kala bermakna memisahkan diri dari umat Islam, yaitu dari jama'ah, atau memisahkan diri dari jalur Sunnah Nabi yang dilalui oleh Ahlus Sunnah, yang merupakan Ahlu Islam sejati.

Kedelapan.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk memerangi siapa saja yang memisahkan diri dari jama'ah, sebagaimana yang disinggung dalam hadits di atas tadi. Sanksi tersebut merupakan sebuah ketetapan bagi sesuatu yang pasti terjadi. Sebab sangat mustahil ketetapan Nabi itu ngawur dan hanya kira-kira belakan.

Kesembilan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menjelaskan bahwa siapa saja yang mati dalam keadaan memisahkan diri dari jama'ah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah[1]. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa perpecahan itu adalah adzab, menyempal itu adalah kehancuran dan beberapa perkara lainnya yang menunjukkan bahwa perpecahan pasti terjadi. Peringatan terhadap bahaya perpecahan bukanlah gurauan belaka ! Pasti melanda umat sebagai bala'. Perpecahan tidak akan terkadi bila kaum muslimin berada di atas keterangan ilmu, mengenal kebenaran, mengenal Al-Qur'an dan As-Sunnah serta berpedoman Salafus Shalih, mencari kebenaran tersebut hingga dapat membedakan antara haq dan batil. Siapa saja yang mendapat hidayah, maka ia mendapatkannya dengan petunjuk ilmu. Dan siapa saja yang sesat, maka ia sesat berdasarkan kekerangan yang nyata. Hanya kepada Allah saja kita memohon keselamatan dari kesesatan.

Kesimpulannya.
Berdasarkan dalil-dalil qathi di atas, perpecahan pasti melanda umat ini.
Perpecahan adalah bala' dan adzab yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala tetapkan dan tidak akan berubah!

Perpecahan dengan beragam bentuknya adalah tercela
Setiap muslim harus mengetahui bentuk-bentuk perpecahan dan para pelakunya sehingga ia dapat menghindar dari jurang kesesatan!

[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu asbabuhu subulul wiqayatu minhu, edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]
_________
Foote Note.
[1] Hari ini disebutkan dalam sejumlah hadits, sebagian dari jalaur sanad itu dinyatakan shalih oleh Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani. Silakan lihat kitab As-Sunnah karangan Ibnu Abi Ashim 1/13-14
[2] Ibid

Selasa, 06 Desember 2011

PENYIMPANGAN DALAM SYAHADATAIN (Bagian kedua)

 بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ

Tidak diragukan lagi bahwa keyakinan menentukan sikap seseorang, maksudnya sikap seseorang dalam kehidupan sehari-harinya akan ditentukan oleh keyakinanya, untuk lebih jelasnya mari kita lihat contoh berikut ini :
1. Kenapa sikap orang berbeda-beda walaupun agamanya sama ?
2. Kenapa sama-sama ustadz bahkan lulusan pondok pesantrennya sama tapi 
    akhlaknya berbeda? 
3. Kenapa ada orang tua yang mengizinkan anaknya pindah agama dan 
    adapula yang tidak, padahal orang tua tersebut sama-sama islam ?  
4. Kenapa orang miskin ada yang mau pindah agama karena diberi uang  dan 
   ada juga yang tidak mau ??? 

Berarti ada sesuatu yang menyebabkan munculnya sikap / perilaku / ahlak seseorang ? iya apa betul ? sesuatu itu bernama keyakinan (Iman)

Telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya bahwa Al-Wala' merupakan bukti pengamalan dari keyakinan terhadap     لاَ إِلهَ إِلاَّ الله  yang melahirkan sikap TAAT yakni Taat terhadap perintah-perintah Allah swt, Taat kepada perintah-perintah Rosululloh SAW dan Ulil amri minkum (Kholifah)

Iman (keyakinan) harus diamalkan melalui pembuktian TAAT, pembuktian taat bernilai TAQWA karena itu pembuktian iman (TAAT) lebih sulit daripada membicarakanya, karena Allah SWT pasti akan menguji kita, firman Allah Ta'ala :
الم ﴿١﴾ أَحَسِبَ النّاسُ أَن يُترَكوا أَن يَقولوا ءامَنّا وَهُم لا يُفتَنونَ
(1) Alif laam miim. (2) "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ""Kami telah beriman"", sedang mereka tidak diuji lagi?"QS. Al-Ankabut (29) : 1- 2